×
  • Jl. Pejanggik No.12, Pejanggik, Mataram
  • +62 81 333224444

Budaya Paresean

feature-img
feature-thumb

Deskripsi

Suara gending gamelan terdengar dari kejauhan seolah memanggil setiap orang untuk mendekat. Sahut-sahutan suling bambu, tabuhan gendang, dan pukulan gong pengatur irama menjadi pertanda akan segera dimulainya pertarungan para pepadu (petarung). Iringan tabuhan yang menggebu-gebu memacu semangat penonton dan adrenalin para pepadu untuk maju ke arena pertarungan.

Kerumunan massa membentuk lingkaran riuh rendah meramaikan pengumpulan taruhan dan mengharapkan jagoannya memenangi pertandingan. Sementara itu sang wasit (pekembar) sibuk mencari para jawara yang akan beradu kekuatan. Para pepadu diambil dari kerumunan penonton yang biasanya sudah mengelompokkan diri berdasarkan daerah asal. Ya, inilah peresean merupakan festival adu ketangkasan dan kekuatan antara pemuda di kalangan suku Sasak Lombok.

Peresean adalah pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan penjalin dan dilengkapi dengan perisai yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau yang disebut ende. Penjalin terbuat dari rotan sepanjang satu setengah meter yang masing-masing ujungnya diikat dengan benang dan dilumuri aspal atau pecahan beling yang telah dihaluskan. Sabetan penjalin yang mengenai anggota badan akan meninggalkan garis-garis sayatan yang perihnya bisa membuat tidak tidur semalaman.

Peresean dipimpin oleh tiga orang pekembar yang terdiri dari satu orang pekembar tengah dan dua orang pekembar pinggir. Pekembar tengah bertugas memandu dan memastikan aturan main ditaati oleh para petarung selama pertandingan berlangsung. Sementara pekembar pinggir bertugas mencari para petarung dari kalangan para penonton.

rPekembar pinggir juga bertanggung jawab memegang ende dan penjalin pada saat istirahat di akhir setiap ronde dan memberikan poin terhadap setiap pukulan yang dilayangkan para petarung. Pekembar pinggir juga bertugas mencari petarung selanjutnya.

Para petarung yang telah terpilih akan bersiap-siap dipinggir lapangan. Masing-masing petarung harus bertelanjang dada, menggunakan kain khas Lombok yang disebut dodot yang diikat mengelilingi pinggang dan ujung yang menyentuh tanah. Sehelai kain sapuk (ikat kepala) diikat ala pendekar zaman kerajaan untuk menutupi kepalanya.

Sembari para pekembar berkeliling menari membawa penjalin dan ende, para petarung tertunduk khusyuk dan menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa atau membaca mantra-mantra kesaktian. Dipercaya atau tidak bahwa terkadang meskipun terkena sabetan berkali-kali, pukulan dari lawan tidak akan berbekas di kulit badan sang petarung. Itulah sebabnya peresean juga menjadi ajang menguji ilmu kebal para petarungnya.

Selama pertarungan berlangsung, iringan musik tidak boleh berhenti. Para pekembar akan menari di sela-sela babak satu dengan lainnya untuk menjaga dan meningkatkan semangat para petarung. Begitupun halnya dengan para petarung. Mereka akan menari sembari mendongakkan kepalanya keatas langit pertanda bahwa mereka masih sanggup meladeni serangan lawannya dan akan mengeluarkan segenap kemampuannya untuk tampil sebagai pemenang.

Ritme musik pengiring akan naik turun seiring dengan gerakan dan pukulan para petarung di tengah lapangan. Semakin sengit pertarungan, semakin semangat pula para penabuh memainkan instrumen musiknya.

Setiap ronde biasanya akan berlangsung selama kurang lebih dua menit. Selama pertarungan, para pepadu harus mentaati awiq-awiq atau aturan main pertandingan. Petarung tidak diperbolehkan melakukan pukulan pada area bawah perut. Sasaran pukulan adalah daerah bagian atas badan hingga kepala. Poin tertinggi diberikan ketika petarung dapat memukul kepala lawannya yang merupakan bagian yang paling dilindungi para petarung.

Pertarungan akan dihentikan jika salah satu petarung mengalami luka dan berdarah di bagian kepala yang secara otomatis memenangkan lawannya. Jika tidak, pertarungan akan berlangsung selama lima ronde yang diakhiri bunyi peluit panjang sang pekembar. Selanjutnya pemenang akan ditentukan dengan akumulasi poin yang dihitung berdasarkan penilaian pekembar pinggir lapangan. Setelah bertarung, para pepadu bersalaman dan berpelukan, sebagai pertanda tidak ada rasa dendam antara keduanya. Hal itu juga menunjukkan sportivitas dan rasa hormat diantara mereka.

Pemenang akan mendapatkan sejumlah uang yang disediakan panitia. Namun demikian, hadiah bukan tujuan utama dari setiap petarung yang turut serta dalam ajang ini. Rasa bangga dan meningkatnya kepercayaan diri menjadi kepuasan tersendiri bagi setiap petarung terlepas dari kemenangan maupun kekalahan yang dialami. Hentakan pukulan penjalin dan sabetan yang menyambar bagian badannya serta iringan tabuhan gamelan membawa sensasi unik tersendiri bagi mereka. Karenanya mereka tidak pernah merasa kapok untuk naik kembali ke arena pertarungan.

Dalam sejarahnya peresean dikenal dalam cerita lokal suku sasak sebagai pelampiasan emosional para prajurit pasca peperangan. Peresean juga pernah dipercaya suku Sasak sebagai upacara untuk memohon hujan yang tak kunjung turun di musim kemarau yang panjang. Selain itu, peresean menjadi media untuk melatih ketangkasan, ketangguhan, dan keberanian pemuda Sasak.

Kini peresean terus dilestarikan melalui pegelaran untuk meramaikan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan RI. Peresean juga diadakan sebagai salah satu bagian dari perhelatan festival-festival adat lainnya seperti Festival Bau Nyale.

Peresean juga menjadi salah satu pertunjukan utama dalam festival budaya yang diselenggarakan Pemerintah Daerah NTB setiap tahunnya termasuk untuk menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung ke pulau Lombok.

Sumber Informasi:

https://kumparan.com/darmawan-hadi1519288845127/peresean-pertarungan-gladiator-suku-sasak-lombok

Sumber foto:

(sumber foto: http://www.guidelombok.com/wp-content/uploads/2016/09/peresean.jpg)

Buka di Google Maps

Alamat:
Lombik
Telpon:


Fasilitas

    Tidak tersedia

Atraksi Destinasi

Atraksi tidak tersedia

Desa Wisata Terdekat

Desa Wisata Mas Mas

Desa, 4.25 km

Desa Wisata Aik Berik

Desa, 5.80 km